Kebijaksanaan Pendidikan di Negara Berkembang

Fauzi. Kebijaksanaan pendidikan di negara-negara berkembang umumnya berasal dari warisan kebijaksanaan pendidikan kaum kolonial. Diakatkan demikian, oleh karena negara-negara berkembang pada saat baru pertama kali merdeka belum sempat membangun kebijaksanaan pendidikannya sendiri berdasarkan kebutuhan realistik rakyatnya. Kemerdekaann yang telah dicapai di bidang politik tidak dengan sendirinya diikuti oleh kemerdekaan di bidang lainnya, lebih-lebih di bidang pendidikan.
Mas Achmad Icksan (1985) mengidentifikasi ciri-ciri kebijaksanaan pendidikan yang merupakan warisan kaum kolonial. Pertama, sifatnya yang elitis atau lebih banyak memberikan kesempatan kepada sekecil masyarakat dan tidak lebih banyak memberikan kesempatan kepada sebagian besar masyarakat. Realitas demikian tampak mula-mula pada awal-awal kemerdekaan terutama dalam hal kesempatan mendapatkan layanan, meskipun pengejawantahannya akhirnya lebih bersentuhan dengan persoalan mutu pendidikan.
Tampak sekali bahwa layanan pendidikan yang bermutu tetap dinikmati kalangan terbatas, sementara kalangan kebanyakan sekadar mendapatkan layanan pendidikan yang dari segi kualitas sangat memprihatinkan. Keluhan mengenai mutu pendidikan yang akhir-akhir ini pernah mencuat ke permukaan, agaknya dapat dilihat dari sudut pandang ini.
Kedua, berorientasi sosio-ekonomik. Orientasi sosio-ekonomik demikian, berkaitan erat dengan jaringan ekonomi internasional di mana negara-negara maju berposisi sebagai sentralya sementara negara-negara berkembang sekadar sebagai periferalnya. Dalam kedudukan sebagai priferalnya, negara berkembang umumnya secara ekonomik masih tinggi tingkat dependesinya terhadap negara maju.
Bantuan-bantuan yang diberikan dalam bentuk pinjaman bagi pelaksanaan di negara-negara berkembang umumnya justru memperkukuh dependensi tersebut. Jika secara ekonomik hal demikian masih dan belum mandiri, maka dalam hal strategi pencapaian tujuan pendidikanya pun juga masih tetap bergantung. Tidak jarang pembaruan-pembaruan di bidang pendidikan, umumnya di mulai dari negara maju; dan begitu negara maju sudah ditinggalkan, baru dimulai dan digalakkan di negara-negara berkembang. Negara-negara berkembang seolah-olah terombang-ambing oleh pasang surutnya, naik turunnya dan jaya hancurnya konsep-konsep mengenai pendidikan di negara maju.
Ketiga, liberal, rasional, individual, archievment oriented dan social alienated. Ciri-ciri pendidikan demikian, umumnya berbeda dan bahkan berlawanan dengan ciri-ciri masyarakat dan nilai-nilai yang berkembang di negara-negara berkembang. Pendidikannya liberal, padahal masyarakatnya menjunjung tinggi nilai-nilai kolektivisme; pendidikannya menanamkan rasionalitas, padahal masyarakat di negara-negara berkembang banyak juga budaya-budaya yang tidak saja mengembangkan rasionalitas melainkan juga segi-segi emosional dan bathiniah; pendidikannya individual, padahal masyarakatnya menjunjung tinggi kesetiakawanan sosial dan gotong royong; pendidikannya archievment oriented secara sempit sekedar prestasi akademik di kelas; pendidikannya sosial alienated padahal masyarakatnya menginginkan sosialisasi siswa dengan lingkungannya.
Keempat tidak berakar pada tradisi dan budaya setempat. Hal demikian sangat memperhatikan, oleh karena pendidikan pada dasarnya adalah pewarisan budaya dan generasi sebelumnya kepada generasi sesudahnya atau penerusnya. Oleh karena tidak berakar pada tradisi dan budaya setempat, maka para siswanya bisa mengalami keterangan budaya.
Kelima, berorientasi pada masyarakat kota, ini juga sangat memprihatinkan mengingat sebagian besar wilayah negara-negara berkembang justru terdiri dari pedesaan. Orientasi ke kota demikian lambat atau cepat, langsung maupuin tidak langsung bisa menjadikan penyebab lulusan-lulusan pendidikan lebih tertarik dengan kehidupan kota ketimbang bangga membangun desanya. Tingginya angka perpindahan penduduk ke kota-kota besar, yang lazim menimbulkan efek-efek sampingan sosial, agaknya juga dapat dilihat dari sudut pandang ini.
Berkenaan dengan kenyataan-kenyataan demikian inilah, Winarno Surachmad, melalui Majalah Prisma ( 1986 ) pernah menggugat, apakah sudah tiba waktunya kita membangun sistem pendidikan yang dirancang dari, oleh dan untuk dunia ketiga, atau negara-negara berkembang. Sebab,tidak hanya kontroversi-kontroversi yang dikemukakan oleh Mas Achmad Icksan di atas mewarnai pendidikan di negara-negar berkembang, melainkan yang juga tidak kalah penting adalah, bahwa persoalan negara dan bahkan kependidikan negara-negara barat dan maju, sudah tidak dapat dipecahkan dengan menggunakan ilmu kependidikan mereka sendiri.
Responsi atas kenyataan demikian, tak ada cara lain kecuali negara berkembang itu sendiri, mempunyai tekad dan keberanian serta mewujudkan tekad dan keberanian tersebut secara nyata untuk membangun sistem dan kebijaksanaan pendidikannya sendiri berdasarkan kebutuhan objektif rakyatnya. Apapun sistem yang di bangun jika didasarkan atas kebutuhan rakyatnya, tentu relatif kebutuhan realistis bangsa lain; apa lagi hanya sekadar mengadopsi sistem bangsa lain yang cara membangunnya juga berdasarkan kebutuhan realitis bangsa lain tersebut.
Haruslah disadari oleh negara berkembang sendiri, bahwa mengeksporan sistem pendidikan yang dilakukan oleh negara maju, tentu tak semata secara murni ingin membebaskan negara berkembang dari keterbelakangan; melainkan ada misi lain, misalnya didapatkan nilai tambah mengenai beberapa hal untuk negara maju sendiri. Persyaratan-persyaratan yang dikenakan negara-negara maju atas negara-negara berkembang atas bantuan pendidikannya, seringkali menempatkan negara berkembang pada posisi tak untung, smemntara negara maju sendiri masih tetap berada di atas angin. Karena itu pembangunan sistem pendidikan di atas budaya, kemampuan, kebutuhan objektif negara berkembang sendiri adalah suatu kebutuhan mendesak yang akan memberikan kejayaan kepada negara berkembang sendiri di masa depan.
Beberapa kendala yang berkenaan dengan ini pernah juga dikemukakan oleh penulis (1986), ialah terutama berkenaan dengan para perangcangnya. Sebab, mereka ahli dalam perancangan sistem pendidikan, umumnya juga produk pendidikan dari negara maju yang cara berpikirnya sama dengan guru dan dosennya di negara maju sana. Sedikit ataupun banyak, apa yang akan mereka lakukan, pastilah akan berpe terhadap kerja mereka.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: